Home

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Leiden

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Leiden atau PPI Leiden adalah kelanjutan dari Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia yang berdiri sejak 1922 di kota Leiden. Perkembangannya mengikuti bentuk yang dianggap perlu sesuai dengan kebutuhan anggotanya. Tahun 1922 dijadikan sebagai landasan historis organisasi dikarenakan pada tahun ini dicetuskan ‘organisasi orang Indonesia’ oleh ‘orang Indonesia’ dengan menggunakan nama ‘Indonesia’ yang pertama. (Elson, 2008: 23) Sebelumnya Perhimpunan ini bernama Indische Vereeniging (dibentuk pada tahun 1908) akan tetapi nama dan tujuan organisasi tersebut bukanlah mengacu pada “Indonesia yang merdeka dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain” seperti yang ada pada cita-cita Perhimpunan Indonesia sejak tahun 1922. Hingga sekarang, PPI Leiden terus berupaya untuk meneruskan cita-cita Perhimpunan Indonesia yang disesuaikan dengan perkembangan dan tantangan di zaman baru.

1908-1922

Indische Vereeniging dibentuk pada tanggal 25 oktober 1908 di Hoegewoerd 49, Leiden diantaranya oleh Noto Soeroto (1888 – 1951) dan Soetan Casayangan (1874 – 1927). Tujuan dari Indische Vereeniging adalah “mendorong orang-orang Hindia untuk belajar di negeri Belanda”. (Poeze, 2014: 68) Organisasi ini beranggotakan banyak kalangan yang memiiliki hubungan dengan tanah jajahan Hindia Belanda. Perlu disebutkan juga disini peran dari para pengajar di Universitas Leiden yang beraliran progresif seperti van Vollenhoven (1874 – 1933) dan Snouck Hugronje (1857 – 1936) yang turut mempengaruhi pemikiran para mahasiswa Indonesia dan perkembangan organisasi ini.

1922-1939

Indonesische Vereeneging (Perhimpunan Indonesia) menggantikan nama dan tujuan dari Indische Vereeniging. Dengan tegas dinyatakan bahwa landasan Perhimpunan
adalah pada haluan politik non-kooperasi dengan Belanda. (Indonesia Merdeka, 1924: 1-2) Indonesische Vereeniging/Perhimpunan Indonesia juga keluar dari keanggotaan pada Indonesische Verbond van Studeerenden, sebuah organisasi kerjasama antara pelajar Indonesia dengan Belanda pada bulan Juni 1922. Mereka yang berada dibalik pembentukan Indonesische Vereeniging diantaranya adalah Mohammad Hatta (1902 – 1980), Natzir Pamuntjak, dan Achmad Soebardjo (1896 – 1978).

Bijeenkomst van de Perhimpunan Indonesia in Leiden (sekitar 1924 – 1927). Dalam foto: Winarjo Projodikaro, Soenario, Achmad Soebardjo, Mr. Singgih, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Hatta, Boedhiarto. Sumber: media-kiltv.nl

Bijeenkomst van de Perhimpunan Indonesia in Leiden (sekitar 1924 – 1927). Dalam foto: Winarjo Projodikaro, Soenario, Achmad Soebardjo, Mr. Singgih, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Hatta, Boedhiarto. Sumber: media-kiltv.nl

Sebagai sebuah organisasi yang mandiri dan terbuka, Perhimpunan Indonesia turut diwarnai oleh berbagai pemikiran serta aktivitas politik dan kebangsaan. Keikutsertaan aktif dari Perhimpunan Indonesia yang cukup menonjol tercatat pada Congress International Democratique (Kongres Demokrasi International) di Bierville, Perancis pada bulan Agustus 1926. Kemudian pada Kongress gegen Koloniale unterdruckung und Imperialismus (atau yang dikenal dengan Liga melawan Imperialisme dan untuk Kemerdekaan Nasional) di Brussels, Belgia, pada bulan Februari 1927. Di dua kongres ini, PI berhasil membuat perhatian dunia terfokus kepada penjajahan Belanda di Indonesia. Memasuki tahun 1930an, dibawah pimpinan Abdulmadjid Djojoadhiningrat, corak PI beralih menjadi condong kepada haluan Communist Party Holland.

Indonesische Studenten te Leiden (Desember 1933). Dalam foto: Mohamad Icksan, Siti Soendari, Tjokroadisoemarto, Mohamad Hasan, Ariono Koesoemo Joedo, Soekadari, Soemardi, Karni, Roesbandi, Prijono, Soegeng, Hadiono Joesoemo Joedo, Oetarjo Soerjamihardja).

Indonesische Studenten te Leiden (Desember 1933). Dalam foto: Mohamad Icksan, Siti Soendari, Tjokroadisoemarto, Mohamad Hasan, Ariono Koesoemo Joedo, Soekadari, Soemardi, Karni, Roesbandi, Prijono, Soegeng, Hadiono Joesoemo Joedo, Oetarjo Soerjamihardja). Sumber: media-kiltv.nl

1940-1945

Pelajar Indonesia di Leiden aktif dalam gerakan pembebasan Belanda dari pendudukan Jerman. Mereka tergabung dalam ‘Barisan Irawan’, sebuah penamaan yang diberikan setelah salah satu anggota Perhimpunan, Irawan Soejono, tewas ditembak oleh tentara Nazi Jerman pada tahun 1945. Anggota Perhimpunan Indonesia di Leiden yang aktif dalam pergerakan pada masa ini, antara lain: Irawan Soejono dan koesoemo Oetoyo.

1945-1959

Hubungan yang kurang harmonis antara pemerintah Indonesia dengan Belanda berdampak pada pengiriman pelajar yang minim ke negeri Belanda di masa ini. Tidak terdapat informasi mengenai aktivitas pelajar Indonesia di Leiden secara khusus. Namun, seperti halnya yang terjadi di berbagai negara Eropa, pemerintah (KBRI) menginisiasi terbentuknya ‘Perhimpunan Pelajar Indonesia’ di suatu negara dimana terdapat mahasiswa Indonesia dalam jumlah yang cukup, termasuk di negeri Belanda.

1960-awal 1990an

Para pelajar Indonesia di Leiden tergabung dalam suatu Komisariat Daerah Leiden/Den Haag untuk PPI Belanda, bersama dengan komisariat dari pelajar Indonesia di kota lainnya yaitu Komisariat Daerah kota Amsterdam dan sekitarnya/Utrecht, Komisariat Daerah Rotterdam/Delft, Komisariat Daerah Nijmegen/Wageningen/Tilburg/Eindhoven/Maastricht, dan Komisariat untuk Sekolah Nasional di Wassenaar. (Suluh: Agustus 1966)

Akhir 1990an

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda tidak berjalan lagi.

2004 – sekarang

Pada tahun 2004, seiring dengan pertambahan jumlah mahasiswa Indonesia di berbagai kota, fokus aktivitas perhimpunan pelajar di Belanda tidak lagi pada ‘PPI negara’, melainkan pada ‘PPI kota’ yang langsung berhubungan dengan pelajar Indonesia di kotanya. Perhimpunan Pelajar Indonesia dibentuk di berbagai kota di Belanda pada tahun 2004 bersamaan dengan diaktifkannya PPI Belanda yang berfungsi sebagai wadah koordinasi bagi tiap-tiap PPI kota. Di tahun ini, PPI Leiden dihidupkan kembali sebagai suatu organisasi paguyuban yang independen. Mengacu pada Perhimpunan Indonesia 1922 sebagai landasan historisnya, PPI Leiden tumbuh menjadi satu wadah ergerakan intelektual mahasiswa Indonesia di Belanda. Stichting Sapu Lidi – Pondok Pak Min yang didirikan oleh alm. Pak Sardjio Mintardjo, alm. Muridan Wijoyo (LIPI) dan Sri Margana (UGM) di tahun 2007 menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari PPI Leiden itu sendiri. Istilah “mafia Leiden” mengemuka sejak masa ini, merujuk pada para pelajar Indonesia di Leiden yang selalu menjunjung tinggi intelektualitas dan persaudaraan untuk negeri. Beberapa kegiatan PPI Leiden yang menonjol diantaranya aktivitas dengan tema hukum, sejarah, ekonomi, sosial, dan budaya secara berkala dengan berbagai pakar dan para mahasiswa yang berdedikasi di bidangnya. Termasuk juga menjalin hubungan yang erat dengan orang Indonesia eksil di negeri Belanda.

Berkumpul di kediaman Pak Mintardjo (Juni 2013). Dalam foto: Farabi Fakih, Rianne Subijanto, Kuslan, Sarmadji, Sri Margana, Mintardjo, Gogol. Dokumentasi oleh Paramitha Soedjono.

Berkumpul di kediaman Pak Mintardjo (Juni 2013). Dalam foto: Farabi Fakih, Rianne Subijanto, Kuslan, Sarmadji, Sri Margana, Mintardjo, Gogol. Dokumentasi oleh Paramitha Soedjono.

2016

Sejak tahun 2016, PPI Leiden berbenah diri menjadi organisasi berbasis pelajar yang profesional dengan tidak meninggalkan semangat aslinya, yaitu Perhimpunan yang berdasarkan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Keanggotaan PPI Leiden kini terbuka bagi semua kalangan dan secara otomatis bagi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar aktif pada institusi pendidikan di kota Leiden.

www.ppileiden.org